Anakku Kesulitan Membaca, Apakah Disleksia ?

Setiap pagi, Rangga duduk paling depan di kelas dan tampak bersemangat seperti anak-anak lainnya. Namun, saat pelajaran membaca dimulai, ia mulai gelisah. Ketika diminta membaca satu kalimat sederhana, ia terdiam lama, memandangi huruf-huruf seolah asing. Teman-temannya sudah lancar menyalin tulisan di papan tulis, sementara Rangga masih bingung membedakan huruf “b” dan “d”. Ia bukan anak yang malas, bahkan sangat cerdas dalam menggambar dan menjelaskan sesuatu secara lisan. Namun, tantangan yang ia hadapi dalam membaca dan menulis seolah tak akan bisa dia lalui. Kondisi ini terjadi berulang.

Fenomena seperti ini sering kali luput dikenali, padahal bisa jadi merupakan tanda dari sebuah kondisi yang disebut disleksia. Disleksia adalah kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang sebenarnya cerdas, namun mengalami kesulitan membaca, mengeja, atau menulis. Otaknya bekerja berbeda saat berhubungan dengan bahasa, tapi bukan berarti anak itu bodoh. Justru banyak anak dengan disleksia yang pintar di bidang lain, seperti menggambar, olahraga, atau berhitung. Disleksia bukan penyakit dan tidak menular, jadi tidak perlu takut atau khawatir.

Ilustrasi anak belajar (sumber : Pixabay)

Ciri-ciri Anak dengan Disleksia di Kelas Rendah (SD)

  1. Lambat belajar mengenal huruf dan bunyi huruf.
  2. Sulit menghafal urutan seperti hari-hari, angka 1–20, atau abjad.
  3. Tidak paham kata yang berima, seperti tahu bahwa “kucing” mirip bunyinya dengan “pancing”.
  4. Sering salah melafalkan kata atau mengganti satu kata dengan kata lain.
  5. Susah menyebut nama benda (sering bilang “itu… anu…”).
  6. Sering terbalik menulis huruf, seperti menulis b jadi d.
  7. Sulit mengingat perintah lisan yang panjang.

Tidak semua anak yang lambat membaca berarti disleksia. Hanya lewat pemeriksaan oleh ahli (seperti psikolog atau guru pendamping khusus) kita bisa tahu dengan pasti.

Disleksia disebabkan oleh perbedaan cara kerja otak, terutama dalam hal memproses bahasa tertulis dan suara. Penelitian menunjukkan bahwa otak individu dengan disleksia berkembang dan berfungsi dengan cara yang berbeda, sehingga mereka kesulitan mengenali bunyi-bunyi dalam kata dan menghubungkannya dengan huruf yang mewakili bunyi tersebut. Kesulitan ini bukan karena kurangnya kecerdasan atau kemauan untuk belajar, karena banyak anak dengan disleksia justru cerdas dan berbakat di bidang lain. Disleksia juga bersifat genetik, artinya jika ada anggota keluarga seperti orang tua atau saudara yang mengalaminya, kemungkinan besar anak juga bisa mengalaminya. Maka, penyebab disleksia bukanlah karena pengaruh lingkungan, kemalasan, atau kurangnya perhatian, melainkan faktor bawaan yang memengaruhi cara otak memproses bahasa.

Bagaimana Penderita Disleksia Melihat Teks ?

Penderita disleksia tidak memiliki perbedaan fisik yang terlihat dalam penglihatan mereka, tetapi mereka mengalami kesulitan dalam memproses informasi visual yang berkaitan dengan bahasa. Mereka mungkin melihat huruf atau kata-kata yang bergeser, memutar, atau tampak kabur, yang menyebabkan kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja.

Berikut ini ilustrasi bagaimana penderita disleksia melihat tampilan huruf. Ilustrasi ini divisualisasikan oleh Daniel Britton dikutip dari CNN Indonesia.

Britton didiagnosis dengan disleksia pada usia 18 tahun. Bertahun-tahun dia berjuang di sekolah tanpa bantuan dan gagal dalam semua ujian, kecuali desain grafis.Di tahun terakhirnya di London School of Communication dia memutuskan membuat desain untuk menyampaikan pengalaman disleksia kepada orang-orang yang tidak menderita disleksia agar mereka bagaimana rasanya memiliki disleksia. Dengan menggunakan font standar Helvetica, Britton menghilangkan 40 persen dari garis huruf. Hal ini memperlambat seseorang ketika membacanya.

“Saya ingin membuat orang-orang non-disleksia memahami seperti apa membaca dengan kondisi tersebut, menciptakan kembali frustasi dan rasa malu ketika membaca teks tersebut.”“Ini bukan apa yang dilihat oleh orang disleksia, tapi hanya menciptakan kembali pengalaman.”Britton mengatakan, dia percaya bahwa sekali disleksia dipahami maka masyarakat bisa menciptakan kondisi belajar yang lebih baik bagi siswa disleksia. Juga membuat mereka unggul seperti yang bisa dilakukan oleh orang lain.

Mengenali disleksia sejak dini sangat penting agar anak mendapat dukungan yang tepat di rumah maupun di sekolah. Bagi orang tua, perhatikan dengan saksama bagaimana anak belajar membaca dan menulis. Jika anak kesulitan mengingat huruf, membaca lambat, atau sering menulis huruf terbalik seperti “b” menjadi “d”, itu bisa menjadi tanda awal. Anak disleksia sering kali tampak cerdas dan kreatif dalam berbicara atau menggambar, tetapi merasa frustrasi saat berhadapan dengan teks tertulis. Bila gejala seperti ini muncul berulang kali, sebaiknya segera konsultasikan dengan psikolog pendidikan, guru pendamping khusus, atau tenaga profesional lainnya. Tindakan cepat akan sangat membantu anak berkembang dengan percaya diri tanpa harus merasa tertinggal.

Bagi guru, kepekaan dalam mengamati perilaku belajar siswa di kelas sangatlah penting. Jika ada siswa yang lambat membaca meskipun sudah diajarkan berulang, kesulitan mengikuti instruksi tertulis, atau tampak cemas saat diminta membaca keras-keras, jangan buru-buru memberi label malas atau kurang perhatian. Guru dapat mencatat tanda-tanda tersebut dan berkomunikasi dengan orang tua untuk menyarankan evaluasi lebih lanjut oleh ahli. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan tenaga profesional akan menjadi kunci untuk memastikan anak mendapatkan bantuan yang tepat sejak awal, agar ia dapat tumbuh menjadi pembelajar yang tangguh dan bahagia.

Sumber :

International Dyslexia Association. (2017). Dyslexia in the classroom: What every teacher needs to know. Baltimore, MD: International Dyslexia Association.

CNN Indonesia. “Bagaimana Rasanya Membaca Lewat Mata Seorang Disleksia?” selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150616164741-255-60366/bagaimana-rasanya-membaca-lewat-mata-seorang-disleksia.Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *