
Sudut literasi yang diimpikan (pinterest)
“Seberapa efektifkah keberadaan sudut literasi?” Demikian pertanyaan terbuka yang diajukan seorang rekan guru di beranda media sosialnya. Pertanyaan yang beliau posting dua pekan lalu benar-benar mengganggu pikiran penulis. Tentu kita tidak asing dengan pepatah “buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya”. Pepatah lama yang telah kita dengar sejak masih menuntut ilmu di pendidikan dasar, hingga kini kita menjadi guru bagi para penuntut ilmu. Pepatah ini menunjukkan bahwa di dalam buku terdapat begitu banyak pengetahuan yang siap disimak oleh pembacanya. Saking banyaknya pengetahuan bermanfaat yang terdapat dalam gudang tersebut, sampai-sampai pemerintah mendorong rakyatnya untuk gemar membaca.
Sayangnya, Laporan Bank Pembangunan Dunia menyebutkan bahwa kemampuan membaca masyarakat Indonesia tertinggal 45 tahun dibandingkan negara maju (Media Indonesia, 28 Oktober 2017). Untuk itu dirancanglah sebuah gerakan yang disebut Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan yang dimulai pada tahun 2015 ini kemudian diterjemahkan meluas menjadi gerakan literasi keluarga, gerakan literasi masyarakat, dan gerakan literasi sekolah. Fokusnya berkembang bukan hanya baca tulis saja, namun meliputi numerasi, sains, finansial, digital dan budaya.
Sekolah sebagai pusat layanan pendidikan menyambut sigap gerakan ini. Guru menginisiasi, pelajaran dibenahi, kebiasaan diperbaiki, perpustakaan diregenerasi, kurikulum mengakomodasi, ujian akhir pun dievaluasi, sampai ruang kelas juga direnovasi. Dan salah satu hasil renovasi paling populer di kelas-kelas kita saat ini adalah munculnya pojok-pojok baca yang sering disebut sudut literasi.
Hampir setiap ruang kelas di tiap sekolah memiliki sudut literasi. Sudut ini diharapkan merupakan lokasi yang kaya akan teks bacaan yang bertujuan menjadi kepanjangan tangan perpustakaan. Rasanya tidak afdol ruang kelas kita sebagai seorang guru, jika tidak memiliki sudut literasi ini.
Namun sekarang coba kita refleksikan keberadaan sudut literasi ini setelah nyaris satu windu GLN dirilis. Terutama di sekolah-sekolah di provinsi Lampung, daerah tempat kami tercinta. Masih efektifkah keberadaannya di ruang-ruang kelas kita? Sudah seriuskah rancangannya? Atau hanya sekadar basa-basi, yang penting ada, hanya pelengkap saat supervisi dan akreditasi.

Sudut literasi berisi hanya buku pelajaran
Sudut literasi idealnya kaya akan bahan bacaan yang menarik minat murid. Namun seringkali penulis dapati sudut literasi hanya berisi buku-buku teks pelajaran yang sejatinya digunakan dalam pembelajaran reguler di kelas. Biasanya buku-buku ini singgah sesaat di sudut literasi sebelum akan digunakan di jam pelajarannya, untuk kemudian kembali lagi setelah selesai digunakan. Tentu saja hal ini membosankan bagi murid. Alih-alih memenuhi sudut ini dengan buku teks reguler, guru bisa mencoba memenuhinya dengan buku-buku yang benar-benar ingin dibaca murid. Bukan buku yang guru pikir penting dibaca murid. Kita bisa mengadakan survei kecil-kecilan untuk mengetahui buku apa yang ingin murid baca.
Berikutnya setelah buku-buku yang menarik tersedia di sudut literasi, mari kita perhatikan berapa lama buku itu tersedia di sana. Jika selama setahun penuh tidak pernah bersirkulasi maka bisa dipastikan murid juga akan bosan membacanya berulang-ulang. Idealnya sebuah judul buku berganti setiap satu atau dua bulan sekali.
Kemudian mari kita tengok pula kenyamanan sudut literasi tersebut. Banyak sekali sudut literasi yang hanya berisi meja-meja tanpa hiasan, polos tanpa kesan. Wajar sekali jika murid lebih nyaman berada di kafe-kafe, kantin atau taman daripada di sudut ini.
Penulis menyadari bahwa kondisi ideal sudut literasi ini bukanlah perkara mudah yang bisa langsung ditransformasikan dalam sekejap. Banyak sekali hambatan yang mungkin akan dihadapi oleh sekolah sesuai dengan kapasitas dan daya dukungnya masing-masing. Masih banyak sekolah yang jangankan buku bacaan menarik, buku teks bahan ajar saja masih kurang. Sulit sekali mensirkulasikan buku yang keberadaannya saja tidak ada. Boro-boro membuat sudut literasi ber-vibes cafe asyik, sekadar tidak bocor, keramik lantai terjaga, dan kaca jendela yang pecah dapat terganti saja sudah bersyukur sekali. Maka kondisi ideal yang penulis utarakan ini kadang merupakan angan-angan ideal guru semata.










Untuk mewujudkan angan ini butuh sekali komitmen serius semua pihak terkait. Kami di sekolah membutuhkan buku-buku yang menarik. Buku yang pengajuannya mudah, harganya murah, dan jumlahnya banyak. Kemudian murid juga butuh komitmen guru untuk memanfaatkan bukunya. Ada koleksi buku bagus namun tidak pernah keluar dari etalase perpustakaan. Takut rusak kata petugasnya. Dari sini kita mengetahui bahwa rasa menjaga fasilitas bersama dari murid juga sangat diperlukan. Kalau sudut literasi sudah dibenahi, baru kita meningkatkan angan kita mengejar ketertinggalan 45 tahun di awal tadi. Angan-angan yang dimulai dari sudut kecil di ujung kelas.
Rak baru untuk koleksi buku baru.

Tinggalkan Balasan